Dimana letaknya rasa bangga sebagai sebuah bangsa
Rasa bangga yang pernah ada dulu ………………
Dimana letaknya rasa bangga sebagai sebuah bangsa
Rasa bangga yang pernah ada dulu ………………
Pengalaman kita sebagai suatu bangsa yang pernah dijajah, sekalipun sudah berlalu namun rasa suka dan senang dengan kebiasaan dan kesenangan tetap pada gaya lama, lebih menyukai produk luar, mengapa ? apa memang jiwa kita senang dijajah ?.
Kiranya hal ini menggugah kita, untuk mencintai produk sendiri, sebagai contoh :jeans Produk lokal ada, baju produk lokal ada, batik juga ada dan tidak kalah menarik.
Mari bung cintai produk lokal, produk dalam negeri !
| Kekuatan Budaya : (2 dari 4) Kebiasan terkadang membuat kita terpuruk dalam lingkaran setan yang tak pernah terputus, namun apapun yang telah kita terima dari leluhur kita, mereka adalah inspirasi bagi kita untuk melihat dan merasakan bahwa kebiasaan yang mereka terjemahkan dalam budaya itu, mampu melahir generasi ke generasi yang lebih baru, Hal itu pula yang membuat leluhur kita dapat survive mengarungi kehidupan ini. |
Budaya : (1 dari 4)
Ada disekitar kita kebiasaan baik yang selalu dipertahankan sedari dulu, dalam bentuk perilaku kebiasan individu yang melebur dalam perilaku kebiasaan hidup kekeluargaan, yang secara berjenjang mempengaruhi lingkungan yang lebih luas bahkan lebih luas dari sekedar secara kekerabatan, tindakan perilaku dari lingkungan individu, keluarga dan kekerabatan pada gilirannya melahirkan tatacara didalam menghadapi tahapan prosesi kehidupan, yang kemudian kita kenal dalam bentuk upacara adat istiadat.
Cintailah bangsa ini,
seperti kau mengasihi dirimu sendiri,
Jangan biarkan dia menangis, karena darah yang tertumpah.
Jagalah bangsa ini,
seperti kau merawat diri mu sendiri,
Jangan biarkan dia terkoyak, karena merah-putih terbelah.
Kita seperti diujung tanduk
mengaku sebagai bangsa yang besar, karena SDA & SDM
Namun kita tidak mampu menangani karena besarnya …..
Takut karena besarnya ……
Lalu di mana letak kesadaran kita berpijak !
Jangan pernah lupakan seharah, sepert itulah yang menjadi peringatan orang-orang besar, karena kita ada hari ini, karena ada kemarin, dan sebelumnya.
Jika kita dkemarin bisa bersatu karena kita berbeda dan kita memang banyak, lalu kenapa saat ini kita karena beda ingin bercerai berai.= mungkin kita lupa kemarin dan seblunya.
Kita terkadang mengharapkan durian runtuh, seperti punguk merindukan Bulan kata pepatah…. Tapi saat ini kita memang menanti dengan sungguh-sungguh Pemimpin yang mengerti hari-hari kebutuhan sembilan Bahan Pokok, Kebutuhan Pokok Kehidupan : Pangan, Papan, Sandang, Kesehatan, Pendidikan, Agama, Keamanan……………
Lalu mana bukti nya – kalau yang ada seperti hari-hari ini harga melonjak tidak menentu….
Apa pemimpin itu tidak nonton TV ya ?
Apa Pemimpin itu tidak baca koran ya ?